Cerita cinta season 2: sub judul: jadi artis
Cerita sebelumnya...
Sedikit demi sedikit ia beranikan diri menatap “partnernya” seorang bidadari surgawi yang dikirimkan ke bumi untuk menjadi teman perjuangan hidupnya. Ditatapnya sang bidadari dengan sedikit rasa malu, ia keluarkan jurus andalannya "senyuman manis penakluk gadis" yang memang disiapkan untuk partner of lifenya. *cling…* sang bidadari pun ikut tersenyum tersipu malu (mungkin juga karena geli). Digenggamnya tangan sang bidadari dengan penuh kehangatan dan kelembutan. Terlihat wajah merona yang masih malu-malu menyambut genggaman tangannya...
Lanjut season 2…
Akad pagi itu membuat suasana berubah. Ketegangan perlahan mencair menjadi lelehan kebahagiaan dan keceriaan. Senyum manis terpancar dari kedua wajah mempelai itu. Saking manisnya sampai tak perlu menambahkan gula kedalam secangkir kopi jika ingin mendapatkan teh manis.
Sesekali terlihat ia menatap wajah istrinya dengan mesra sembari tetap menggenggam tangannya yang dibalas dengan senyum malumalu tapi mau. Leluconlelucon lawas pun ia lontarkan tuk memecahkan kebekuan dibalas tawa kecil dari bidadari kecilnya.
Bersiap menghadapi walimatul ursy, Bidadari kecilnya dan ia dipanggil untuk diberi sentuhan buat atas (make up) dan kostum sebelum menembak (shooting). Beruntungnya ia, suami dari perias sedang tidak ada di tempat sehingga sentuhan topeng tak berhasil menyentuh wajahnya. Hanya kostum merah menyala dengan peci dan selop serta rangkaian melati membalut tubuhnya. Sempurnahlah tampilannya bak pangeran berkuda-kuda dari negeri seribu mimpi.
Sementara itu permaisurinya tampak begitu khusyuk deiberi sentuhan “magis” oleh tangantangan perias. Bedak tebal menyelimuti kepolosan wajahnya, gincu merah menutupi kedua bibirnya. Tak ketinggalan dua buah titik menempel di dahi dan hidungnya. Memang tampilan permaisurinya tampak terasa asing baginya, tapi baginya isterinya tetap terlihat cantik seperti kata pepatah, “bukan cantik yang membuat ia cinta, tapi cinta yang membuatnya cantik”
"duhai rosa,
bukanlah kencantikan parasmu yang selalu aku kagumi
melainkan kemuliaan akhlakmu yang menawan hati
wahai bunga,
bukanlah manis senyummu yang selalu membuatku rindu
melainkan tausiyahmu yang mengingatkanku"
bukanlah kencantikan parasmu yang selalu aku kagumi
melainkan kemuliaan akhlakmu yang menawan hati
wahai bunga,
bukanlah manis senyummu yang selalu membuatku rindu
melainkan tausiyahmu yang mengingatkanku"
Sempurnalah kostum kedua mempelai, keduanya dibalut busana merah indah, di tambah 16 tangkai mawar merah dalam rangakaian bunga yang digenggam isterinya semakin menegaskan warna cinta meraka, merah membara. Siap menyongsong aksi sang sutradara dalam sebuah judul yang istimewa, walimatul ursy Rosaria dan Ariesca. Dengan sebuah mobil cinta, pasangan bidadari dan bidadara meluncur ke tempat pengumuman terjalinnya cinta yang telah sah merajut asa bahagia, sebuah balai desa.
Rupanya ia dan istrinya telah ditunggu pasukan yang setia, menyambutnya dengan riang gembira bak pejabat yang terhormat juga merakyat. Dengan senyum yang masih memesona (menurutnya) ia perlahan turun dari kuda sang raja menunggu waktunya tiba menyalami penggemar dari seluruh penjuru dunia (hueeeks). Tempat parkir jadi tempat singgahnya sebelum menuju pelaminan yang dipersiapkan. Ah,, tak mengapa pikirnya, tempat parkirpun serasa istimewa. Asalkan bersama bidadarinya, gubuk tua pun serasa istana baginya.
***
Waktunya telah tiba, ia dan bidadarinya berjalan perlahan disertai papa dan mama juga mamah dan papah diiringi pasukan berjubah merah dipasukan mereka. Agak aneh baginya dan sedikit tak nyaman karena ia tak biasa berjalan perlahan, seketika kecepatannya bertambah tanpa ia sadari di minta kembali memelankan langkahnya agar suasana khidmat tetap terasa .
Memasuki gedung cinta, sekira 1000 kamera kurang (banyak :D) dan 100 kurang (banyak :p) camcorder segera menyambut kehadiran mereka layaknya Artis terkenal sedunia. Ingin ia lambaikan tangan pada semua tapi tetap terlihat cool calm and confident. Akhirnya ia tetap melanjutkan jalan perlahan sambil menggandeng tangan permaisurinya menuju pelaminan yang menjadi saksi betapa hangatnya cinta mereka. Kemesraan terlihat begitu nyata terpendar dari keceriaan wajahnya.
***
Layaknya artis ibu kota, banyak yang ingin berpoto dengan mereka. Dengan senang hati melayani keluarga, tetangga, teman dan sahabat yang luar biasa menyempatkan hadir di hari kami yang berbahagia (semoga kalian (yang belum menikah) cepat menyusul kami dan merasakaan kebahagiaan seperti yang kami rasa juga). Untung saja tak satu pun ada yang meminta tanda tangan atau sedikit wawancara. Jika memang ada, mungkin ia kan menjawab “no coment, kami sedang berbahagia”
Tapi perlahan keringat mulai berkucuran, wajah menjadi sedikit pucat. Apa yang salah padanya? Astaghfirulloh, lapeeeeerrrr…. rupanya ia belum sempat sarapan. Hanya selembar roti tawar yang masuk dalam perutnya sejak ba’da subuh. Ah, rupanya maagnya memang belum sembuh. Waktu berjalan terasa lambat dan Ia mencoba bertahan dengan kekuatan cinta. Ah, tetapi rasa lapar itu tak juga menghilang. Ia mencoba tuk tetap tersenyum yang mungkin tak lagi memesona (pikirnya). Ingin rasanya segera pulang, menjauh dari keramaian dan menyantap sepiring hidangan.
Begitulah hikmah di hari bahagia, cinta saja tak cukup menghilangkan rasa lapar :p
-_-"
BalasHapusfyuh...duh gusti..paringana shabar..
aamiin ^^v
BalasHapushihi..
BalasHapuslapar itu memang sangat berbahaya :)
BalasHapusfotonya.. -_-
BalasHapusLOL
BalasHapus*capek nahan ketawa di tempat yg g boleh bersuara keras ini :)))))))))))))))))))
asal nggak pake madu ya... hehehehe
BalasHapussaya mah udah tahu dari dulu tuh foto2 yang beginian... bongkar2 aja mbak, filenya... nanti ketemu yang aneh2 lagi deh hehehe
BalasHapus*pernah iseng ubrak abrik komputer kang icha
udah tau kok dek..
BalasHapusdikasih liat orangnya sendiri..
-_-"
fyuh..
untung saya dah (lama ) ndak minum secangkir KOPI dan es TEH...
BalasHapusyu now mi so wel...
BalasHapus*ada yg ngeh juga
maksudnya teh di sini mah teteh manis ya...
BalasHapusO.o :melongo
mang ada kokopi ya hehehe
-_-"
BalasHapusrupanya kau masih muda nak, belum mengerti.... ^^v
dan..gemuruhlah 'arssyNya, menggugurkan sakinah, mawadah, rahmah, maslahah, barokah..fiddini waddunya khattal akhiroh,
BalasHapus:) , dulu pas lg walimah malah ga berasa laper, setelah selesainya juga nggak, jadi heran sendiri hehe
BalasHapushihi,,, luar biasa,,
BalasHapusmungkin mas adit yang makan, mbak tiwi yg kenyang
*ngawur